Tampilkan postingan dengan label Jihad Zone. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jihad Zone. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Mei 2013

Jihad itu Bukan Terorisme …

“Seribu kali kebohongan maka hasilnya adalah kebenaran”, pepatah ini tepat untuk menjelaskan upaya-upaya sebagian orang untuk mendaur ulang pengertian jihad. Jihad selalu didekatkan dengan tindakan terorisme, jihad sama dengan tindakan kekerasan, jihad identik dengan usaha merusak tanpa pandang bulu.Ada juga jihad dengan arti usaha keseharian mencari nafkah dengan sungguh-sungguh juga termasuk jihad, jihad melawan korupsi, jihad dalam menuntut ilmu, bekerja keras, disiplin, mengekang hawa nafsu dan makna-makna lain yang menyimpang dari makna hakikinya (syara’).



Pengertian ini mengalir deras dari mulut-mulut orang kufar atau dari kalangan muslim yang kurang paham tentang hakikat jihad. Atau keluar dari ulama-ulama bayaran dan kaum munafikin yang hendak merusak ajaran-ajaran Islam. Cuma karena sokongan media yang pro mereka maka ‘kebohongan’ dalam memberi arti jihad telah merubah ‘arti bohong’ menjadi benar dan akhirnya sebagian umat (awam) yang masih butuh bimbingan ini termakan dan menelan mentah-mentah.


Menilik sejarah masa lalu, umat Islam Indonesia tidak asing dengan kata ‘jihad’, mengingat begitu besarnya nilai istilah ini bagi Indonesia dimasa-masa kritisnya merebut kemerdekaan dari penjajah(imperialis) Portugis, Jepang dan Belanda.Hanya orang-orang buta sejarah dan munafik yang tidak mengakui bahwa berkat resolusi ‘jihad’ yang dikeluarkan oleh para ulama’ secara individu atau institusi(kelembagaan seperti KH.Hasyim Asyari dengan NU-nya) sejak penjajah menginjakkan bumi Indonesia telah melahirkan pribadi-pribadi pejuang.Nyawa perlawanan bangkit subur karena panggilan jihad, dan orang-orang yang memahami keagungan jihadlah yang pada akhirnya menyingsingkan lengan baju berangkat kemedan-medan pertempuran; kembali dengan kemenangan atau syahid dimedan juang. Indonesia bisa merdeka seperti sekarang karena berkat ‘jihad’, apakah kita lupa dengan pekikan; ’Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu Akbar..” dari seorang Bung Tomo ketika menggelorakan pertempuran 10 November? Pangeran Diponegoro,Teuku Umar, Pangeran Antasari dan masih banyak lagi pahlawan yang akrab ditelinga kita; perjuangan mereka tegak dengan ruh jihad menyatu dalam aliran darah dan tiap tarikan nafas mereka.


Makanya umat perlu atau sangat perlu mewaspadai niat-niat busuk di balik upaya segelintir orang (karena sokongan media dan dana dari tuannya yang menjadikan seolah-olah besar) untuk menyimpangkan makna ‘jihad’ keluar dari definisi atau arti yang sesungguhnya.Apalagi ada moment atau peristiwa yang bisa dijadikan pintu masuk atau alasan untuk mengotak-atik arti jihad ini, mereka rekayasa Kasus 911, Bom bali 1&2, bom Depok, bom Serpong, bom gereja Komponten Solo, dan terakhir Bom Boston , padahal di saat yang sama masyarakat dunia bisa melihat dengan mata kepala sendiri betapa jahat dan biadabnya Amerika, Cs atas tindak terorisme dengan pengeboman-pengeboman yang menumpahkan darah dan nyawa yang jumlahnya ratusan kali lipat dibandingkan kasus bom Bali.Lihatlah nasib rakyat Irak, rakyat Afganistan, yang dicabik-cabik penjajah Amerika cs.


Maka ini adalah proyek penjinakan umat Islam agar mati ruh jihadnya, matinya jiwa perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan baik fisik atau non fisik, hegemoni atau penguasaan negeri-negeri Islam oleh negera-negera imperialis adalah menjadi motif utamanya. Makna-makna jihad yang manipulatif ini terus dipropagandakan di tengah-tengah kaum Muslim untuk mengaburkan dan menyimpangkan pandangan masyarakat terhadap makna jihad sebenarnya. Padahal, ruhul jihad merupakan salah satu tiang pancang bagi tegaknya Islam dan kaum Muslim dari serangan musuh-musuhnya. Cuma sayang sebagian besar umat tidak bisa membaca hal-hal seperti ini, umat masih sangat butuh bimbingan agar bangkit kesadaran politiknya dan menimbang segala peristiwa menurut kacamata keyakinan dan syariatnya.


Makna ‘Jihad’ yang benar;


Seperti diterangkan dalam al Qur’an dan as Sunnah kemudian dibukukan dalam ratusan kitab fiqh oleh ulama’ salafus sholeh dan ulama’-ulama’ zaman sekarang (dan mu’tabar; jadi rujukan dan pegangan umat Islam), bisa diringkas;


Secara bahasa kata “al-jihaad” berasal dari kata “jaahada”, yang bermakna “al-juhd” (kesulitan) atau “al-jahd” (tenaga atau kemampuan).Imam Ibnu Mandzur dalam Kitab Lisaan al-’Arab nya, secara bahasa, al-jihaad artinya;mengerahkan kemampuan dan tenaga yang ada, baik berupa perkataan maupun perbuatan.


Dalam kitab Syarh al-Qasthalaani ‘alaa Shahiih al-Bukhaariy dinyatakan sebagai berikut Kata jihaad merupakan pecahan dari kata al-jahd, dengan huruf jim difathah yang berarti: at-ta’b (lelah) dan al-masyaqqah (sulit). Sebab, kelelahan dan kesulitan yang ada di dalamnya bersifat terus-menerus. Kata jihaad bisa merupakan bentuk pecahan dari kata al-juhd dengan “jim” didhammah, yang berarti: at-thaaqah (kemampuan atau tenaga). Sebab, masing-masing mengerahkan tenaganya untuk melindungi shahabatnya.


Di dalam al-Quran dan Sunnah, kata jihaad diberi arti baru oleh syariat dari arti asal (bahasanya) atau menuju makna yang lebih khusus, yaitu, “mengerahkan seluruh kemampuan untuk berperang di jalan Allah, baik secara langsung, dengan bantuan keuangan, pendapat (pemikiran), memperbanyak kuantitas (taktsiir al-sawaad) ataupun yang lain (Ibn ‘Abidiin, Haasyiyah, juz III, hal. 336) Dengan demikian, ketika kata “jihad” disebut, secara otomatis orang akan memaknainya dengan makna syariatnya –berperang di jalan Allah”, bukan dengan makna bahasanya. Jihad dengan makna khusus ini, bisa ditemukan pada ayat-ayat Madaniyah. Sedangkan kata jihad di dalam ayat-ayat Makkiyah, maknanya merujuk pada makna bahasanya (bersungguh-sungguh).


Contoh Ayat-ayat yang memberikan pengertian Jihad adalah al Qital (perang);


“Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (QS. al-Nisaa’ : 95)


Jihad dalam ayat ini mempunyai pengertian: keluar untuk berperang, dan aktivitas ini lebih diutamakan daripada berdiam diri dan tidak berangkat menuju peperangan.


Para ulama empat madzhab juga telah sepakat bahwa jihad harus dimaknai sesuai dengan hakekat syariatnya, yakni berperang di jalan Allah baik secara langsung maupun tidak langsung.


Madzhab as-Syaafi’i, sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab al-Iqnaa’, mendefinisikan jihad dengan “berperang di jalan Allah”. Al-Siraazi juga menegaskan dalam kitab al-Muhadzdzab; sesungguhnya jihad itu adalah perang.


Dalam masalah ini, Ibnu Qudamah dalam al Mughni-nya berkata: Ribaath (menjaga perbatasan) merupakan pangkal dan cabang jihad. Beliau juga mengatakan: Jika musuh datang, maka jihad menjadi fardlu ‘ain bagi mereka… jika hal ini memang benar-benar telah ditetapkan, maka mereka tidak boleh meninggalkan (wilayah mereka) kecuali atas seizin pemimpin (mereka). Sebab, urusan peperangan telah diserahkan kepadanya.


Jihad Ofensif dan Jihad Defensif


Dr. Mohammad Khair Haekal di dalam kitab al-Jihad wa al-Qital menyatakan, bahwa sebab dilaksanakannya jihad fi sabilillah bukan hanya karena adanya musuh (jihad defensif), akan tetapi juga dikarenakan tugas Daulah Islamiyyah dalam mengemban dakwah Islam ke negara lain, atau agar negara-negara lain tunduk di bawah kekuasaan Islam (jihad ofensif).


Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan batas minimal jihad yang dilakukan oleh negara. Imam al-Mawardiy dalam kitab al-Iqnaa’, hal.175 menyatakan, “Hukum jihad adalah fardlu kifayah, dan imamlah yang berwenang melaksanakan jihad…ia wajib melaksanakan jihad minimal setahun sekali, baik ia pimpin sendiri, atau mengirim ekspedisi perang.”


Syeikh Imam Nawawi al-Bantani al-Jawi dalam kitab Nihayah Az-Zain, “Jihad itu adalah fardhu kifayah untuk setiap tahun, apabila orang-orang kafir berada di negeri mereka. Paling sedikit satu kali dalam satu tahun, tapi apabila lebih tentu lebih utama, selama tidak ada kebutuhan lebih dari satu kali. Jika jihad tidak dilakukan maka wajib atas sebagian (kaum Muslimin) untuk mengajak jihad, dengan salah satu dari dua cara”.


Berdasarkan pendapat di atas dapatlah disimpulkan bahwa jihad yang dilakukan oleh kaum Muslim bisa berwujud jihad ofensif maupun defensive. Jadi jihad itu bukan terorisme, dan jihad tidak sama dan tidak identik dengan terminologi kekerasan.



Umat Islam bisa menyaksikan hari ini, penanganan aksi teror selalu di ekpos di media secara sengaja dengan mengkaitkan simbol-simbol Islam, misalkan barang bukti adalah buku-buku, web, sosial media yang menjelaskan tentang jihad dan semisalnya. Sekalipun kita juga harus obyektif, barang kali ada segelintir orang muslim yang bias menterjemahkan jihad dalam konteks yang tidak tepat, atau bisa jadi mereka pun dijebak dan direkayasa.


Namun demikian bukan berarti orang bisa seenak perutnya mengkriminalisasi tema Jihad yang mulia.Bahkan condong penanganan “terorisme” sudah lepas dari konteks historikal politik global maupun lokal yang sedemikian rupa akhirnya mendorong memposisikan umat Islam banyak membuat reaksi daripada aksi. Dan ketika sebagian saudara-saudara kita tidak mampu mengendalikan diri, outputnya adalah sebuah langkah yang akhirnya menjadi kontraproduktif di manipulir oleh media sekuler secara sistematis. Atas nama jihad melakukan tindakan teror yang tidak proporsional, dan membuat salah paham dunia dan umat Islam sendiri yang masih banyak yang awam.


Umat harus waspada manufer orang-orang yang membenci Islam & kaum muslim melalui permainan bahasa berusaha membikin kacau cara berfikir dan perilakunya.Wallahu a’lam

Qatar dan CIA Mencegah Aliran Senjata Ke Jabhah Nusroh



Oposisi Suriah mengungkapkan bahwa Qatar yang berkoordinasi dengan Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) telah memperketat kontrol atas aliran senjata hingga tidak jatuh ke tangan pejuang “Jabhah Nusroh” yang dianggap memiliki kaitan dengan jaringan Al-Qaeda.
Para pejuang oposisi mengatakan,”dalam beberapa bulan terakhir ini, sistem distribusi senjata terpusatkan melalui komando Jenderal Koalisi Nasional yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Salim Idris, yang membelot dari Rezim lalu bergabung dengan oposisi, dan ia adalah salah satu tokoh yang  disebut sangat dekat dengan Washington”.
Qatar selama ini telah mendistribusikan sebagian besar senjata kepada oposisi yang bertugas di Utara Suriah, sedangkan Arab Saudi mengirim senjata kepada Oposisi yang beroperasi di daerah selatan Suriah.
Sejak tahun lalu pengiriman senjata kepada para pejuang oposisi telah di batasi, hal itu sejak Washington menyatakan kekhawatirannya bahwa senjata-senjata itu akan jatuh ke tangan kelompok seperti Jabhah Nusroh.
Seorang pejabat Qatar mengatakan,”kami melakukan banyak konsultasi dengan CIA dan mereka telah membantu Qatar dalam pembelian dan distribusi Senjata ke Suriah selama ini, tetapi hanya sebagai penasihat, tidak lebih dari itu”. (hr/IT)
eramuslim.com

Sabtu, 11 Mei 2013

Subhanallah, kisah sniper Jabhah Nushrah termuda yang gugur dalam pertempuran di Hamah dalam usia 15 tahun

Subhanallah, kisah sniper Jabhah Nushrah termuda yang gugur dalam pertempuran di Hamah dalam usia 15 tahun













Muhib Al-Majdi Sabtu, 27 Jumadil Akhir 1434 H / 3 November 2012 10:26

HAMAH (Arrahmah.com) – Mujahidin Jabhah Nushrah kembali mempersembahkan seorang ksatrianya sebagai syahid dalam pertempuran di propinsi Pinggiran Hamah. Abu Hamzah Al-Faruq, sang mujahid gugur dalam usia 15 tahun. Dialah sniper dan mujahid termuda Jabhah Nushrah di negeri Syam.

Umar Al-Bukairati adalan nama asli Abu Hamzah Al-Faruq atau Abu Hamzah Asy-Syami. Ia dilahirkan di kota Qudsiya, propinsi Idlib, Suriah pada tahun 1996 M. Ia tinggal dan tumbuh di kota Qudsiya bersama keluarganya sampai usia 12 tahun. Semangat keislaman dan anti kezaliman rezim Nushairiyah Suriah mulai tumbuh saat ia memasuki bangku pendidikan menengah dalam usia 13 tahun.


Saat revolusi rakyat muslim Suriah terjadi pada Maret atau April 2011 M, Umar Al-Bukairati termasuk kelompok siswa yang pertama kali menyambutnya. Bersama para pemuda, orang tua dan masyarakat kota Qudsiya, Umar Al-Bukairati turun ke jalan dalam aksi-aksi demonstrasi menentang rezim Suriah.

Dinas intelijen dan militer rezim Suriah memburu para aktivis demonstrasi di seluruh wilayah Suriah. Umar Al-Bukairati bersama ratusan pemuda dan aktivis di kota Qudsiya termasuk dalam daftar DPO rezim Suriah. Dengan niat menyelamatkan diri dari kezaliman dan kekejaman rezim Suriah, Umar Al-Bukairati dan keluarganya berhijrah ke Turki pada bulan September 2011. Puluhan ribu warga sipil muslim Suriah lainnya juga berhijrah ke Turki untuk menyelamatkan agama dan nyawa mereka.


Di tempat pengungsian di negara Turki, Umar Al-Bukairati tidak merasakan ketenangan sedikit pun. Bagaimana ia bisa tenang, sementara ribuan anak-anak, wanita dan orang tua yang tak berdosa dibantai setiap harinya di seluruh wilayah Suriah? Ia tidak rela hidup tenang di Turki, sementara kaum muslimin di Suriah ditindas rezim Nushairiyah.

Semangat keislaman dan jihad senantiasa membara dalam jiwa Umar Al-Bukairati. Setiap hari ia membanting tulang demi membantu kehidupan keluarganya di kamp pengunsian, sambil sedikit demi sedikit menabung sisa uang belanja.


Berbekal uang tabungan dan uang pemberian keluarganya, Umar Al-Bukairati membeli sebuah senapan sniper. Ia kemudian kembali ke tanah kelahirannya, kota Qudsiya. Di sanalah ia membaiat pemimpin kelompok mujahidin Jabhah Nushrah. Melalui kelompok itu, ia mendapatkan pelatihan militer umum dan pelatihan khusus untuk calon sniper.

Dengan karunia Allah semata, kemudian latihan militer serius yang diterima dari para instruktur mujahidin, di usianya yang baru 15 tahun Umar Al-Bukairati telah menjadi salah satu sniper mujahidin yang handal. Mujahidin Jabhah Nushrah menempatkannya dalam Brigade Yusuf Ash-Shiddiq di kota Al-Qudsiya.


Dalam berbagai pertempuran yang diterjuninya bersama Brigade Yusuf Ash-Shiddiq, Umar Al-Bukairati telah menewaskan 13 tentara rezim Suriah. Ketika mujahidin Jabhah Nushrah di propinsi pinggiran Hamah membutuhkan tambahan mujahid, pimpinan Jabhah Nushrah memindahkan Umar Al-Bukairati ke wilayah jihad tersebut. Di propinsi itulah, sang sniper mujahidin cilik ini gugur dalam sebuah pertempuran.


Semoga Allah menerima amalmu dan menempatkanmu di surga Firdaus yang tertinggi. Selamat jalan sang sniper dan mujahid cilik, yang gugur dalam usia 15 tahun. Semoga kesyahidanmu menjadi suri tauladan bagi seluruh generasi muda kaum muslimin. Semoga perjuanganmu dan pengorbananmu menjadi batu bata bagi tegaknya kembali khilafah islamiyah di negeri Syam.

Sebagai kenang-kenangan atas rekan mereka yang gugur, sang sniper dan mujahid Abu Hamzah Al-Faruq, mujahidin Brigade Yusuf Ash-Shiddiq telah merilis sebuah video pendek tentang sosok sang syahid.



- See more at: http://www.arrahmah.com/read/2012/11/03/24445-subhanallah-kisah-sniper-jabhah-nushrah-termuda-yang-gugur-dalam-pertempuran-di-hamah-dalam-usia-15-tahun.html#sthash.yGdzq9GL.dpuf

Kamis, 09 Mei 2013

Seruan Jihad Rohingya Arakan


PUSHAMI: Fitnah terorisme Densus 88 mengancam seluruh warga negara Indonesia (WNI)

PERS RELEASE
FITNAH TERORISME DENSUS 88
MENGANCAM SELURUH WARGA NEGARA INDONESIA (WNI)
LAPORKAN DAN BUBARKAN

Bismillahirahmanirahim

Assalamualaikum wr. wb,

(Arrahmah.com) - Sepak terjang sang dead squad Densus 88 kini mulai mencuat lagi. Kali ini mereka melakukan pengejaran terhadap terduga teroris yang dituduh akan meledakkan Kedubes Myanmar. Bahkan Baku tembak terjadi antara Densus 88 dengan sejumlah orang yang diduga teroris di Kampung Batu Rengat RT 02/08 Desa Cigondewah Hilir, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, sekitar pukul 11.00 WIB, Rabu (8/5/2013).

Densus 88 juga sering kali terlibat dalam penyiksaan dan extra-judicial killings, membunuh menggunakan senjata tanpa Standard Operational Procedure (SOP) kepada “terduga” teroris yang tanpa senjata dan tanpa perlawanan.

Densus 88 dengan segala fasilitasnya telah menjadi pelaku inpunitas (pelaku penghilangan nyawa yang lolos dari investigasi tanpa proses hukum) dan pelanggar HAM berat. Kasus pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh Densus 88 sampai saat ini masih berlajut dan belum ada yang bisa menghentikannya.

Sampai detik ini, masih banyak praktik impunitas dalam bentuk penyiksaan yang dilakukan oleh Densus 88 di dalam tahanan maupun diluar tahanan terhadap para “terduga” teroris. Lalu apa gunanya pemerintah Indonesia yang telah meratifikasi Konvensi Anti Penyiksaan (Convention Against Torture) dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 1998 tentang Pengesahan Konvensi Penyiksaan pada 28 September 1998.

Atas hal – hal tersebut Densus seringkali melakukan klaim terhadap kelompok Islam tertentu bagian dari kelompok ini dan itu tanpa bukti yang jelas. Melakukan prakondisi terhadap kasus terorisme. Dan seringkali meyalahgunakan kewenangannya untuk memaksa terduga teroris mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya.

Dengan memperhatikan Undang-Undang Dasar 1945 yang sudah beberapa kali diamandemen sebagai Konstitusi Negara, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), Undang-Undang Republik Indonesia No. 18 Tahun 2003 Tentang Advokat, Undang-Undang Republik Indonesia No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, Undang-Undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

Bahwa terkait hal –hal di atas, kami Pusat Hak Asasi Muslim Indonesia (PUSHAMI) menyatakan sebagai berikut :

Menghimbau kepada seluruh segenap saudara saudari kami berkewarganegaraan Indonesia (WNI) yang telah mendapatkan perlakuan diskriminasi dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) baik terhadap diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan hak miliknya sebagaimana diatur dalam Undang-undang Hak Asasi Manusia (HAM) akibat dampak dari fitnah terorisme dan atau teror di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) oleh Densusi 88 ini, UNTUK SEGERA MELAPORKAN KEPADA KAMI dengan terganggunya Hak atas Rasa Aman Tenteram sebagaimana diatur dalam Undang-undang Hak Asasi Manusia (HAM) untuk ditindaklanjuti melakukan upaya hukum sesuai dengan ketentuan hukum dan perundang-undangan yang berlaku.

Mendesak DPR khususnya KOMISI III untuk segera membentuk panja kemudian dilanjutkan dengan proses hukum kepada KaDensus 88, Bareskrim Mabes Polri dan BNPT, karena jelas dan tegas telah melakukan PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. 39 Tahun 1999 Tentang HAK ASASI MANUSIA dan terhadap personil Densus sebagai aparat kepolisian penegak hukum NKRI yang telah melakukan penembakan harus ditindak tegas sebagaimana pula diatur dalam Undang-undang No. 26 Tahun 2000 Tentang PENGADILAN HAK ASASI MANUSIA.



Wassalamualaikum Wr. Wb

Jakarta, 8 Mei 2013

PUSAT HAK ASASI MUSLIM INDONESIA (PUSHAMI)

DIREKTUR
KONTRA TERORISME & KONTRA SEPARATISME



M. YUSUF SEMBIRING, S.H., M.H
081210089997

(samirmusa/arrahmah.com)

- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/05/08/pushami-fitnah-terorisme-densus-88-mengancam-seluruh-warga-negara-indonesia-wni.html#sthash.VuAmlN7M.dpuf

Selasa, 07 Mei 2013

Majelis Mujahidin akan gugat Pancasila sebagai dasar negara ke MK


Ketua Lajnah MMI Ustadz Irfan S Awwas

JAKARTA (Arrahmah.com) – Jelang Kongres Mujahidin IV Agustus 2013 nanti, Majelis Mujahidin telah memasuki tahun ke-13 (sejak tahun 2000). Kiprahnya dalam memperjuangkan penegakan syariat islam di Indonesia menjadi bukti para aktivis dakwahnya serius ingin memperbaiki Indonesia dari kemelut yang tak berkesudahan.

“Banyak sudah pengalaman, dimana kami diuji baik secara institusi maupun stigma yang dilekatkan pada organisasi islam ini. Namun, kami bersyukur, MMI tidak pernah bisa diprovokasi dan diintimidasi oleh siapapun,” ungkap Ketua Lajnah MMI Ustadz Irfan S Awwas kepada jurnalis muslim yang tergabung dalam JITU (Jurnalis Islam Bersatu) di markas MMI, belum lama ini (3/5).

Dalam perjalanannya, ada hal yang cukup penting dalam rangka memperbaiki Indonesia. Pertama, temuan MMI terkait dasar negara Pancasila. Ternyata Pancasila itu bukan dasar negara. Sejauh ini kita ditipu oleh Pancasila. “Termasuk, nyanyian garuda Pancasila.Karena itu, kami akan minta penjelasan kepada Mahkamah Konstitusi (MK), DPR maupun MPR, bagaimana menyikapi temuan MMI ini.”
mmi-logo-arrahmah

Irfan S Awwas juga meminta penjelasan tentang dasar negara yang berdasarkan Ketuhanan YME. Selama ini umat Islam yang ingin tegakkan syariat Islam selalu dipojokkan, mulai dari Soekarno maupun Soeharto. Kita tahu di era Soeharto, Pancasilan dijadikan asas tunggal. Kaum nasional mengklim, hanya kelompoknya yang memiliki NKRI, sementara umat Islam dipojokkan sebagai musuh negara.

“Menarik jika media islam membongkar itu, momentumnya tepat. MMI sudah melayangkan surat tentang gugatan dasar negara ke MK. Kami ingin dengar pendapat mereka secara hukum, juga siapa yang bisa mengoreksi Pancasila sebagai dasar negara.”

Umat Islam, lanjutnya, harus berani secara terbuka untuk melakukan debat intelektual tentang masa depan Indonesia. Kita merasa punya solusi yang berangkat dari syariat Islam. “Selama ini MMI dikatakan tidak mau berdialog, bahkan dituding eksklusif. Kami akan melakukan komitmen bersama ormas-ormas Islam tentang jasa juang penegakaan syariat Indonesia. Diharapkan, diantara kita jangan saling melemahkan dalam upaya penegakan syariat Islam. NU bahkan juga punya sejarah dan jasa untuk perjuangan Islam.

Perjuangan penegakan syariat Islam ini menjadi milik bersama dan punya kewajiban yang sama, bukan lagi kewajiban sektarian atau parsial. Sebagai satu ikhtiar maksimal, kita berupaya untuk melakukan perbaikan Indonesia ke depan.

- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/05/07/majelis-mujahidin-akan-gugat-pancasila-sebagai-dasar-negara-ke-mk.html#sthash.HumlDgB9.dpuf

Senin, 06 Mei 2013

Biografi syaikh Athiyatullah Al-Libi, amir Tanzhim Al-Qaeda wilayah Afghanistan dan Pakistan

Syaikh Athiyatullah Al-Libi alias syaikh Abu Abdurrahman Jamal bin Ibrahim As-Syitiwi Al-Misrati adalah amir tanzhim Al-Qaeda wilayah Khurasan, yaitu Afghanistan dan Pakistan. Beliau gugur pada bulan suci Ramadhan 1432 H di Afghanistan oleh rudal pesawat penjajah salibis AS.

Majalah resmi terbitan tanzhim Al-Qaeda Khurasan, Thalai’ Khurasan edisi 21/Ramadhan 1433 H menurunkan biografi singkat beliau yang ditulis oleh salah seorang murid dan kawan seperjuangan beliau, syaikh Abu Bara’ Al-Kuwaiti.
Telah pergi syaikh Athiyatullah Al-Libi

Pendekar hikmah, ilmu dan kezuhudan

ditulis oleh:

Syaikh Abu Bara’ Al-Kuwaiti



Syaikh Athiyatullah Al-Libi atau syaikh Jamal Ibrahim Asy-Syitiwi semoga Allah merahmatinya adalah seorang laki-laki yang tidak seperti kebanyakan laki-laki lainnya. Allah Ta’ala mengumpulkan pada diri beliau ilmu syar’i, hikmah (kebijaksanaan), kesantunan, leadersif dan manajemen yang bagus, ditambah sifat-sifat istimewa beliau yang lain seperti banyak diam dan berfikir secara mendalam dan lama atas berbagai urusan. Saya belum pernah melihat beliau sehari pun tergesa-gesa dalam urusan apapun.

Beliau senang untuk pelan dan berhati-hati serta tidak tergesa-gesa sebab beliau rahimahullah mengetahui betul ketergesaan selamanya tidak akan berakibat baik. Hal ini dibuktikan oleh serial tulisan beliau yang berjudul “unfudz ‘ala rislika” (berjalanlah dengan pelan-pelan dan hati-hati) dalam majalah Thalai’ Khurasan.

Afghanistan, Land of Jihad

Selain itu, syaikh adalah seorang pakar dan ahli dalam memanaje urusan-urusan dan tugas-tugas jihad yang diembankan kepada beliau dalam medan (Afghanistan dan Pakistan) ini. Beliau juga menjadi supervise atas persoalan-persoalan khusus di medan-medan jihad lainnya. Saudara-saudara kita di medan-medan jihad lainnya barangkali mengetahui lebih banyak tentang hal ini.

Demikian pula Allah Ta’ala mengaruniakan firasat kepada beliau, suatu hal yang membuat orang sangat kagum kepada ketajaman firasat beliau. Sejarah panjang jihad beliau dan dilakukan di beberapa medan jihad memberikan beliau pengalaman yang besar dan banyak dalam mengatur urusan-urusan jihad.

Apalagi syaikh Athiyatullah Al-Libi adalah seorang penuntut ilmu syar’i. Di antara ulama tempat beliau menimba ilmu adalah syaikh Abdullah Al-Faqih semoga Allah menjaganya. Beliau juga menuntut ilmu syar’i di Mauritania kepada sejumlah syaikh dan ulama di sana.

Dalam lembaran-lembaran yang sedikit dan sederhana ini, saya akan menceritakan sifat-sifat, akhlak-akhlak dan pengalaman-pengalaman berkesan syaikh yang mulia dan bijaksana ini yang pernah saya rasakan langsung selama hidup bersama beliau. Bagi saya pribadi, syaikh Athiyatullah Al-Libi adalah seorang ayah yang penyayang dan kakak. Allah menjadi saksi bahwa saya tidak mengambil manfaat dari seseorang di bumi jihad melebihi manfaat yang saya ambil dari diri beliau, yaitu manfaat berupa nasehat dan pengarahan dalam seluruh bidang; bidang syariat, bidang pemikiran, bidang politik dan lain-lain. Kita berdoa kepada Allah semoga melimpahkan keteguhan, bimbingan dan kelurusan kepada kita.

Selayang pandang sejarah syaikh dalam jihad

Syaikh Athiyatullah Al-Libi dilahirkan di kota Misrate, Libya pada tahun 1969 M. Syaikh berangkat ke Afghanistan untuk berjihad pada akhir tahun 1988 M. Di Afghanistan, syaikh bergabung dengan tanzhim (organisasi) Al-Qa’eda pimpinan syaikh Usamah bin Ladin semoga Allah merahmatinya, di kamp militer Jaji.



Syaikh Athiyatullah Al-Libi bergabung dengan tanzhim Al-Qaeda sejak awal didirikan. Beliau telah turut serta dalam beberapa pertempuran terbesar di Afghanistan, seperti penaklukan kota Khost. Beliau memiliki spesialisasi pada penggunaan meriam dan menembakkan mortir. Beliau telah menceritakan kepada saya bahwa beliau telah sering menembakkan mortir dalam banyak operasi jihad, salah satunya dalam pertempuran menaklukkan kota Khost. Selain itu, beliau juga memiliki spesialisasi di bidang bahan-bahan peledak.

Ketika Afghanistan berhasil dibebaskan dari komunis Uni Soviet dan terjadi konflik di antara faksi-faksi mujahidin Afghan, syaikh Athiyatullah rahimahullah berangkat ke Sudan untuk bergabung dengan para pemimpin tanzhim Al-Qaeda yang telah berada di sana, termasuk syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah sendiri.

Pada tahun 1995 M dan atas arahan syaikh Usamah bin Ladin, syaikh Athiyatullah Al-Libi berangkat ke Aljazair untuk turut serta memimpin jihad di Aljazair. Namun karena orang-orang yang gampang mengkafirkan (takfiriyyun) seperti Antar Az-Zawabiri, Jamal Az-Zaituni dan lain-lain menguasai medan jihad di sana, maka syaikh Athiyatullah Al-Libi keluar dari Aljazair dengan terpaksa —sebagaimana beliau ceritakan kepada saya— setelah beliau mengalami upaya pembunuhan oleh kelompok takfiriyah tersebut.



Syaikh Usamah bin Ladin (rahimahullah)

Beliau dan dua orang ulama mujahidin yang bersama beliau akan dibunuh karena mereka mengingkari sebagian tindakan kelompok takfiriyah (Jama’ah Islamiyyah Musallahah) tersebut. Maka mereka membuat makar dengan menempatkan syaikh Athiyatullah Al-Libi di sebuah tempat, lalu mereka mengatakan: “Jamal Az-Zaituni akan datang untuk menemuimu di sini.”

Namun syaikh dengan kecerdasan dan ketajaman firasatnya mencium bau persekongkolan busuk. Maka beliau pun melarikan diri dan menempuh perjalanan yang sangat panjang untuk keluar dari Aljazair. Beliau dikaruniai berkah sehingga akhirnya bisa tiba di Afghanistan untuk kedua kalinya.

Setelah serangan 11 September yang penuh berkah dan menyingkirnya mujahidin Imarah Islam Afghanistan ke negara-negara tetangga Afghanistan, beliau tetap berjihad sampai beliau dan saudara-saudaranya mujahidin berhasil kembali lagi ke wilayah-wilayah aman di Afghanistan.

Ketika berhala modern, Amerika, melakukan invasi militer yang curang ke Irak pada 2003 M, syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah menugaskan syaikh Athiyatullah Al-Libi untuk berangkat ke Irak dan memimpin jihad di sana, mendampingi singa Irak, syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi. Syaikh Usamah memberikan perintah ini pada tahun 2006 M. Tapi Allah Ta’ala tidak memudahkan syaikh Athiyatullah untuk masuk ke Irak untuk sebuah hikmah yang telah diketahui oleh Allah Ta’ala.

Syaikh Athiyatullah kembali ke Afghanistan untuk memerankan peranan yang sangat penting dan besar dalam memimpin tanzhim Al-Qaeda selama lima tahun terakhir (2006-2011 M). Beliau menjadi wakil dari pemimpin umum tanzhim Al-Qaeda (wilayah Khurasan: Afghanistan dan Pakistan) syaikh Musthafa Abul Yazid rahimahullah.

Beliau tetap memegang jabatan tersebut sampai akhirnya menjadi pemimpin umum tanzhim Al-Qaeda wilayah Khurasan, kemudian menjadi orang kedua tanzhim Al-Qaeda pusat (orang pertama adalah syaikh Aiman Azh-Zhawahiri, pent) setelah gugurnya dua syaikh yang mulia; syaikh Usamah bin Ladin dan Musthafa Abul Yazid rahimahumallah.

Syaikh Athiyatullah Al-Libi memiliki kebijaksanaan, pengalaman matang dan keahlian di bidang leadersip, manajemen dan politik yang menjadikan beliau layak memimpin tanzhim Al-Qaeda meskipun dalam tanzhim sendiri terdapat orang-orang yang lebih tua, lebih dahulu berhijrah dan berjihad daripada beliau.



Syaikh Musthafa Abul Yazid rahimahumallah.

Syaikh Athiyatullah sendiri gugur dalam usia yang relatif muda, 43 tahun, setelah mempersembahkan —demikian kami menyangkanya dan di sisi Allah semata perhitungannya— nyawa dan harta yang paling berharga. Di antaranya adalah ikut gugurnya dua putra beliau. Pertama, Ibrahim yang berumur 15 tahun dan gugur dua tahun sebelum ayahnya. Kedua, Isham yang berumur 14 tahun, gugur bersama dengan ayahnya, semoga Allah merahmati mereka semua.

Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda, wahai syaikh kami yang tercinta. Demi Allah, tidaklah saya sedih atas meninggalnya seseorang melebihi kesedihan saya atas kehilangan Anda dan gugurnya Anda. Namun saya hanya akan mengatakan ucapan yang mendatangkan ridha Allah: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, kita milik Allah dan kita hanya akan kembali kepada-Nya.

Akhlak dan sifat-sifat beliau

Syaikh Athiyatullah Al-Libi adalah seorang yang ahli ibadah, shalat tahajud dan shalat malam. Saya sering sekali melihat beliau bersimpuh di hadapan Allah dalam shalat malam. Ketergantungan dan hubungan beliau dengan Allah Ta’ala semakin meningkat setelah beliau menjadi amir tanzhim Al-Qaeda.

Saya mengetahui betul hal ini dari surat-surat beliau yang sangat banyak, beliau menasehatkan untuk senantiasa sabar dan kembali kepada Allah saat menghadapi kesukaran-kesukaran dan musibah-musibah berat, berbaik sangka kepada Allah dan percaya sepenuhnya kepada kemenangan dari Allah meskipun kita sedang menghadapi kondisi-kondisi yang sulit.

Beliau termasuk orang yang paling serius menjaga baitul mal kaum muslimin (kas mujahidin Al-Qaeda, pent). Beliau tidak akan membelanjakan harta kaum muslimin kecuali dengan kadar yang baik sesuai kebutuhan. Saya telah menyaksikan sendiri hal ini berulang kali dan sangat sering. Dalam sebagian kesempatan, beliau memegang harta kaum muslimin namun beliau tidak mempergunakannya untuk membeli makanan pengganjal perut beliau atau membeli sesuatu hal yang murah harganya semata-mata demi menjaga amanat yang berat tersebut.

Syaikh saya, Athiyatullah Al-Libi rahimahullah, sangat serius untuk mengajar dan mendidik anak-anak beliau sendiri secara langsung sekalipun tugas-tugas besar yang diembankan di pundak beliau sangat banyak.

Saya sampaikan pesan kepada setiap mujahid dan setiap muhajir (orang yang berhijrah) dengan keluarganya, hendaklah ia sendiri sangat serius mengajar, mendidik, mengikuti perkembangan dan mengawasi anak-anak mereka secara langsung. Hendaklah ia meluangkan waktu khusus untuk mereka dan menyertai mereka dalam waktu tersebut. Janganlah ia beralasan dengan banyaknya kesibukan dan tanggung jawab yang ia emban. Sebagaimana Allah akan menanyai Anda tentang pekerjaan Anda dan bagaimana Anda melaksanakannya, demikian pula Allah akan menanyai Anda tentang anak-anak Anda, bagaimana pendidikan mereka dan bagaimana Anda mendidik mereka?

Syaikh kami, Athiyatullah Al-Libi rahimahullah, hatinya baik, riang dan suka humor ringan meskipun beliau juga dikenal sebagai orang yang cermat dan memiliki pemikiran yang kuat. Beliau, demi Allah, memperlakukan saya seperti memperlakukan anak beliau sendiri. Bagi saya, beliau adalah seorang ayah yang sangat menyayangi anaknya dan seorang kakak yang menjaga adiknya, melalui berbagai nasehat, arahan, bimbingan sesuai kemampuan beliau terhadap banyak urusan saya.

Saya telah mempelajari banyak hal dari beliau, di mana beliau sendiri sangat antusias untuk mengajarkannya kepada saya —seperti juga disaksikan oleh saudara saya yang tercinta, Abu Hasan Al-Waili—, semoga Allah senantiasa menjaga beliau di dunia dan akhirat.

Dalam ruang yang terbatas ini, saya tidak bisa menyebutkan semua hal yang saya ketahui tentang diri syaikh rahimahullah; ketakwaan, kezuhudan dan kewara‘an beliau. Namun kami hanya menyebutkan sedikit hal yang sekiranya bisa mengungkapkan maksud. Sebab, para tokoh seperti mereka, semoga Allah merahmati mereka semua, memerlukan berjilid-jilid buku untuk menuliskan kehidupan mereka, tidak sekedar beberapa halaman semata.

Umat Islam harus mengetahui kedudukan mulia para pahlawan mereka agar mereka tidak melupakan para pahlawan tersebut dan kehidupan mereka berlalu begitu saja tanpa dicatat oleh sejarah. Musuh-musuh Islam sendiri telah bekerja keras dengan ucapan dan perbuatan mereka untuk memadamkan cahaya para pahlawan Islam. Namun mereka akan gagal, kecewa dan merugi. Agama Allah akan tetap meraih kemenangan.

Sifat-sifat jihad dan kepemimpinan syaikh

Semua orang, bukan hanya hamba Allah yang faqir ini saja, bersaksi bahwa syaikh Athiyatullah Al-Libi rahimahullan adalah seorang yang cerdas, brilian dan berpengalaman luas dalam bidang jihad, mengelola urusan-urusan jihad dan tugas-tugas jihad yang sulit. Beliau adalah orang yang memiliki ketajaman dan kekuatan pemikiran, serta memiliki pandangan yang sangat dalam tentang dampak-dampak sebuah urusan.

Barangkali apa yang dikatakan oleh syahidnya umat Islam dan komandan pasukan pencari syahid, syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi rahimahullah dalam tulisannya yang berjudul da’u Athiyatallah fa huwa a’lamu bima yaquulu (Biarkanlah Athiyatullah, sebab ia lebih mengetahui apa yang ia katakan) cukup sebagai bukti atas hal itu. Dalam tulisan tersebut, syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi rahimahullah membantah dan menasehati orang-orang yang mencaci maki para ulama mujahidin.



Syaikh Abu Mus’ab Az-Zarqowi (rahimahullah)

Bantahan dan nasehat syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi rahimahullah tersebut membuat para pencaci maki tersebut tidak berkutik dan mengajarkan kepada generasi Islam sikap menghormati para ulama dan mujahidin. Bukan suatu kewajiban bagi Anda untuk mengenal sosok syaikh ini atau mujahid itu agar Anda bisa menilai syaikh dan mujahid tersebut orang yang teguh, adil dan bisa dipercaya.

Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi rahimahullah menghentikan lisan-lisan yang mencela dan mencaci maki tersebut dengan sopan dan hormat. Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi rahimahullah berkata: “Pertama. Di antara hal yang sebaiknya diketahui sejak awal oleh para ikhwan, dan hal ini bukan karena saya merendahkan hati —Allah Maha Tahu— melainkan memang begitulah kenyataan dan realitanya, sesungguhnya Athiyatullah adalah kakak bagi adik kalian (maksudnya syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi sendiri, pent). Beliaulah yang sebenarnya syaikh (ulama), bukan saya.

Saya hanyalah salah seorang dari kaum muslimin dan salah satu tentara dari tentara-tentara agama ini. Ketergelinciran dan kekeliruan saya lebih banyak dari kebenaran saya. Kita berdoa kepada Allah semoga Allah membuat saya memegang teguh Islam sampai saya menghadap-Nya dan semoga Allah mengakhiri kehidupan saya dengan husnul khatimah. Sungguh sangat jauh perbedaan antara orang yang menghabiskan setengah umurnya dalam permainan dan kemaksiatan, dengan orang yang jenggotnya tumbuh dan tulang belakangnya mengeras di bumi jihad.

Kedua. Apa yang saya katakan tadi berkaitan dengan apa yang akan saya katakan setelah ini. Yaitu hendaknya ikhwan-ikhwan mengetahui bahwa kakak kita, Athiyatullah, adalah orang yang telah memiliki pengalaman-pengalaman yang telah lalu di beberapa medan jihad. Hal itu membuat laki-laki ini —demikianlah kami mengira, Allahlah yang menghitung amalnya, dan kami tidak mengganggap seorang pun suci di hadapan Allah— keahlian yang sangat kaya, pengalaman yang matang dan pandangan yang jauh ke depan tentang akibat-akibat berbagai urusan. Hal itu membuatnya layak untuk memberikan pendapat dan menyampaikan apa yang diyakininya berkaitan dengan perkara-perkara insidental yang dihadapi oleh jihad dan mujahidin.”

Peristiwa-peristiwa jihad yang saya alami sendiri bersama syaikh Athiyatullah sangat banyak, dan semua itu menambah kemantapan saya bahwa apa yang dikatakan semua pihak tentang kwalitas syaikh Athiyatullah tersebut adalah benar dan kenyataan, bukan dilebih-lebihkan.

Syaikh Athiyatullah memimpin tanzhim Al-Qaeda (wilayah Afghanistan dan Pakistan) dalam kondisi yang sangat berat dan penuh tantangan, di mana kondisi fase tersebut menuntut tanzhim dipegang oleh orang-orang yang benar-benar memiliki kapabilitas dan pengalaman yang handal.

Namun segala puji bagi Allah dalam segala keadaan, syaikh Athiyatullah rahimahullah telah mewariskan sepeninggal beliau tokoh-tokoh yang memiliki cita-cita yang sangat tinggi. Kita berdoa semoga Allah membantu mereka dan meluruskan langkah-langkah dalam mengangkat panji Islam dan meneruskan perjuangan.

Syaikh Athiyatullah juga memiliki pengetahuan yang banyak tentang komputer dan interaksi dengan internet. Beliau senantiasa berkembang dan menguasai banyak perkara dalam bidang-bidang teknologi. Hal ini juga termasuk perkara yang diperhatikan sepenuhnya oleh para amir dan pimpinan tanzhim-tanzhim jihad yang berperang di atas perintah Allah, hendaknya mereka menguasai teknologi dan beragam cabangnya. Dengan begitu mujahdiin memiliki para amir yang handal, memiliki kemampuan yang tinggi dalam mengambil tindakan dan mengatur urusan.Kemampuan tinggi seperti itu tidak diraih kecuali melalui pengembangan dan pelatihan terhadap kemampuan diri sendiri.

Syaikh Athiyatullah rahimahullah sangat antusias untuk mengembangkan kemampuan dirinya dalam segala bidang sehingga beliau bisa menguasai kondisi-kondisi jihad yang beragam, yang menuntut komandan dan amir untuk memiliki kemampuan yang tinggi dalam aspek ilmu dan amal, teori dan praktek.

Syaikh Athiyatullah rahimahullah sangat antusias untuk menjaga ikhwan-ikhwan dan nyawa mereka. Terkadang Anda akan mendapati beliau melarang ikhwan-ikhwan melakukan suatu perkara yang secara lahiriah nampaknya baik, namun setelah Anda merenungkan kembali perkara tersebut secara mendalam, niscaya Anda akan mendapati pendapat beliau itulah yang benar dan tepat.

Hal itu semata-mata beliau lakukan karena keseriusan beliau dalam melindungi nyawa ikhwan-ikhwan, terkhusus lagi para komandan dan orang-orang yang memiliki keahlian di antara mereka, dan juga berdasar pengetahuan beliau bahwa Allah pasti akan meminta pertanggung jawaban beliau atas semua peristiwa kecil maupun besar yang terjadi selama masa kepemimpinan beliau.

Demikian pula, hendaknya kaum muslimin mengetahui bahwa operasi serangan yang menggoncangkan Dinas Intelijen Amerika (CIA) dan pemerintahan Gedung Hitam (plesetan dari Gedung Putih, pent) yaitu operasi Hudzaifah bin Yaman yang dilakukan oleh ikhwan kita yang syahid —insya Allah—doctor Abu Dujanah Al-Khurasani di pangkalan militer Khost, hendaknya diketahui bahwa sesungguhnya arsitek dari operasi yang spektakuler tersebut adalah syaikh Athiyatullah Al-Libi rahimahullah.



Doctor Abu Dujanah Al-Khurasani (rahimahullah)

Saya masih ingat betul, keesokan hari setelah operasi serangan hebat tersebut, saya menjumpai beliau di sebuah wilayah. Seperti biasa kami membicarakan hal-hal yang umum, kondisi-kondisi dan berita-berita dunia. Beliau lalu bertanya kepada saya, “Tahukah engkau wahai Abu Bara’, siapakah pelaku serangan spektakuler ini?”

Saya menjawab, “Saya tidak tahu.”

Beliau berkata, “Sesungguhnya saudara kita, Abu Dujanah Al-Khurasani adalah pelaku operasi serangan ini.”

Beliau lalu menceritakan kepadaku secara detail pelaksanaan operasi serangan tersebut dan bagaimana perencanaan matangnya disusun. Operasi serangan itu bagi orang yang mengetahui detail-detail niscaya sangat menunjukkan betapa brilian, inovatif dan ahlinya beliau ini, betapa bagus perencanaan dan pengaturan beliau, kemudian pertama kalinya berkat taufik Allah kepada beliau dan kedua kalinya taufik Allah kepada akh Abu Dujanah Al-Khurasani.

Berkat itu semua, operasi serangan itu dilakukan dengan sukses sehingga mematahkan punggung CIA, menewaskan delapan perwira CIA, mengantarkan mereka ke neraka Jahanam dan sungguh ia adalah seburuk-buruk tempat kembali. Mereka membuat makar terhadap Islam dan kaum muslimin, namun Allah mendatangkan siksa-Nya kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka dan tidak mereka rencanakan.

Mereka tidak mengetahui bahwa di tengah umat Islam terdapat orang-orang seperti syaikh kita, Athiyatullah Al-Libi, yang senantiasa mengintai mereka dan mengincar mereka dari tempat-tempat pengincaran untuk membunuh mereka, demi menjayakan agama Allah, menolong orang-orang yang tertindas, membela harga diri yang dinodai dan kehormatan yang ditumpahkan.

Terakhir…

Wahai syaikh saya yang tercinta, Athiyatullah Al-Libi, maafkanlah saya atas sikap saya yang tidak memberikan hak-hak Anda ini secara semestinya. Demi Allah, perkataan yang ditulis oleh tangan saya dalam artikel yang sangat sederhana ini tidak pernah akan mampu menunaikan hak-hak Anda atas diri kami.

Saya berharap kepada saudara-saudara saya yang memiliki pengalaman, keahlian dan kepeloporan yang mengenal beliau, hendaklah mereka menyebutkan kebaikan-kebaikan beliau dan menyebutkan beliau dalam buku-buku dan artikel-artikel mereka. Dengan demikian kita bisa memberikan kepada generasi-generasi Islam yang akan datang suri tauladan yang baik, yang mereka wajib mencontohnya, meniti jejak langkahnya dan meneladani peninggalan-peninggalannya.

Di antara hak Anda, wahai syaikh kami, atas kami adalah kami senantiasa mendoakan Anda tanpa sepengetahuan Anda. Kami berdoa kepada Allah semoga Allah menerima amal Anda, menyayangi Anda dan mengaruniakan surga Firdaus yang tertinggi. Sesungguhnya Allah Maha Mengaruniakan hal itu dan Allah Maha Berkuasa.

Akhir dari seruan kami adalah segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam.

(muhib almajdi/arrahmah.com)

- See more at: http://www.arrahmah.com/read/2012/12/05/25136-eksklusif-biografi-syaikh-athiyatullah-al-libi-amir-tanzhim-al-qaeda-wilayah-afghanistan-dan-pakistan.html#sthash.iJe52Spb.dpuf

Mujahidin Suriah merebut posko militer Fad'us di Suriah Selatan

Mujahidin Suriah merebut posko militer Fad'us di Suriah Selatan
HOMS (Arrahmah.com) – Mujahidin Suriah kembali meraih kemenangan penting dalam pertempuran melawan pasukan rezim Nushairiyah Suriah dan milisi Syiah Hizbullah Lebanon di kota Qushair, propinsi Homs. Mereka berhasil merebut sepenuhnya posko militer Fad’us, menguasai persenjataan dan amunisinya, serta menewaskan seluruh tentara Suriah dan milisi Hizbullah dalam posko tersebut pada Ahad (5/5/2013), laporan kantor berita Nora News dan TV Al-Jazeera Hauran. Berikut salinan pernyataan resmi mujahidin seperti dilansir oleh kantor berita Nora News.

Jabhah Islamiyah Suriah

Front Islam Suriah

Divisi al-Haq

Allahu akbar wal hamdulillah



Sebagai bentuk pertolongan kepada saudara-saudara kami di kota Qushair yang tercinta dan sebagai pembalasan atas pembantaian terhadap penduduk ahlus sunnah di kota Baniyas yang tercinta, mujahidin Divisi al-Haq wilayah pesisir selatan Suriah, yang direpresentasikan oleh para ksatria Brigade Syuhada’ Baba Amru, Brigade al-Anshar dan Brigade Islam al-Huda memulai serangkaian serangan terhadap gembel-gembel yang bernama Hizbullah Lebanon dan pasukan-pasukan Bashar Asad di beberapa tempat pada wilayah-wilayah perbatasan Suriah – Lebanon.

Di sini kami menyampaikan kepada kalian berita penyerbuan posko militer Fad’us. Mujahidin berhasil merebut posko militer tersebut secara penuh, menguasai persenjataan dan amunisinya, dan membunuh semua tentara di dalamnya. Segala pujian dan karunia hanya milik Allah semata. Ikhwan-ikhwan mujahidin sampai saat ini masih terlibat pertempuran sengit pada posko militer lainnya. Maka doakanlah pertolongan Allah dan kemenangan yang dekat untukmu saudara-saudara kalian.

Kemuliaan hanyalah milik Allah, rasul-Nya dan kaum beriman.



Ahad, 25 Jumadil Akhir 1434 H

5 April 2013 M

(muhibalmajdi/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/05/06/mujahidin-suriah-merebut-posko-militer-fadus-di-suriah-selatan.html#sthash.0M5kRr26.dpuf

Dalil

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (8:30)
Oleh: Ustadz Abu Muhammad Jibriel A.R
(Arrahmah.com) – Para ikhwah dan akhwat yang dicintai dan dirahmati Allah. Ketahulah bahwa kalimat Jihad fie sabilillah adalah wahyu Allah. Ayat-ayat nya didalam Al Qur’an hampir mencapai 300-16 ayat, melebihi ayat tentang shalat, puasa , zakat dan hajji. Sebagian besar umat Islam kurang bersahabat dengannya, berbeda dengan ayat-ayat shalat, zakat, puasa dan hajji. Akibatnya dikalangan ummat Islam ada yang benci, apriori bahkan cenderung takut dan menentang ayat-ayat jihad.
Sebagai Muslim yang shalih tidak sepatuttnya memiliki sikap munafiq (satu wajah dua muka), artinya sebagian ayat Allah seperti shalat, puasa dan hajji sangat dicintai dan disanjung namun bila sampai kepada ayat jihad, marah benci dan menentang. Apakah ayat berikut ini tidak menjadikan hati kita merindui jihad fiesabilillah yang memiliki potensi membawa masuk kedalam syorga ?
Firman Allah:
Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat membebaskan kamu dari siksa yang amat pedih (neraka), yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul Nya, lalu kamu berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu, yang demikian ini lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Kemudian Allah akan ampunkan dosa-dosamu, dan akan masukkan kamu kedalam sorga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, itulah keberuntungan yang besar.” (QS Shaaf 61:10-11).
Alangkah indah dan bahagianya jika kaum Muslim mencintai dan beramal jihad sebagaiman cintanya kepada amalan hajji dan umrah, shalat dan puasa…
Mari kita mendekatkan diri dengan amalan yang menjadi puncak ketinggain Islam ini, jihad fie sabilillah.Wallahu’alam bish showab…
 (samirmusa/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/jihad-fie-sabilillah-membebaskan-dari-siksa-api-neraka-dan-memasukakan-kedalam-syurga.html#sthash.YnyJfamR.dpuf
Oleh: Ustadz Abu Muhammad Jibriel A.R
(Arrahmah.com) – Para ikhwah dan akhwat yang dicintai dan dirahmati Allah. Ketahulah bahwa kalimat Jihad fie sabilillah adalah wahyu Allah. Ayat-ayat nya didalam Al Qur’an hampir mencapai 300-16 ayat, melebihi ayat tentang shalat, puasa , zakat dan hajji. Sebagian besar umat Islam kurang bersahabat dengannya, berbeda dengan ayat-ayat shalat, zakat, puasa dan hajji. Akibatnya dikalangan ummat Islam ada yang benci, apriori bahkan cenderung takut dan menentang ayat-ayat jihad.
Sebagai Muslim yang shalih tidak sepatuttnya memiliki sikap munafiq (satu wajah dua muka), artinya sebagian ayat Allah seperti shalat, puasa dan hajji sangat dicintai dan disanjung namun bila sampai kepada ayat jihad, marah benci dan menentang. Apakah ayat berikut ini tidak menjadikan hati kita merindui jihad fiesabilillah yang memiliki potensi membawa masuk kedalam syorga ?
Firman Allah:
Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat membebaskan kamu dari siksa yang amat pedih (neraka), yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul Nya, lalu kamu berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu, yang demikian ini lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Kemudian Allah akan ampunkan dosa-dosamu, dan akan masukkan kamu kedalam sorga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, itulah keberuntungan yang besar.” (QS Shaaf 61:10-11).
Alangkah indah dan bahagianya jika kaum Muslim mencintai dan beramal jihad sebagaiman cintanya kepada amalan hajji dan umrah, shalat dan puasa…
Mari kita mendekatkan diri dengan amalan yang menjadi puncak ketinggain Islam ini, jihad fie sabilillah.Wallahu’alam bish showab…
 (samirmusa/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/jihad-fie-sabilillah-membebaskan-dari-siksa-api-neraka-dan-memasukakan-kedalam-syurga.html#sthash.YnyJfamR.dpuf